Assalamu’alaikum teman teman semua.
Apa kabar? Alhamdulillah
udah masuk Ramadhan hari hari ke 26 (aku nulis postingan ini di malam 27
Ramadhan, biar gak ngantuk aku nulis blog. Jadi curhat kan hehehe ).
Aku mau sharing tentang pengalaman baru yang aku alami di
Ramadhan kali ini. Alhamdulillah, Ramadhan kali ini aku diuji dengan cobaan
yang jauh lebih berat dari Ramadhan sebelumnya. Itu artinya, Allah pengen aku
naik tingkat, menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Aamiiin. kalau tahun lalu
aku masih jadi mahasiswa, tahun ini Alhamdulillah aku udah lulus dan kerja. Itu
artinya, kegiatan sehari-hari gak sesantai tahun lalu. Tahun lalu aku masih
bisa tidur siang, jam 4 sore bisa masak dan nyiapin buka puasa, bisa lebih
banyak menghabiskan waktu dirumah, bisa nonton ceramah di TV, dan lain
sebagainya. Tahun ini, masih sebagai anak kos, tapi aku gak bisa lagi tidur
siang, buka puasa sering banget di kantor (buka pakai takjil, nanti selesai
tarawih baru makan), udah gak pernah dengerin ceramah di TV, buka puasa dirumah
sejauh ini baru 3 kali, dan masih banyak lagi hal-hal yang berubah.
Allah memang maha baik. Waktu tidur siangku diganti dengan
bekerja yang InsyaaAllah lebih berpahala. Dengerin ceramah yang tadinya di TV,
sekarang dengerin langsung dari ustadznya. Alhamdulillah, setiap ba’da sholat
dzuhur berjamah, di kantor selalu ada kajian rutin. Kalo dulu, karena selalu
buka puasa di kosan, jadi sholat maghribnya jarang berjamaah. Sekarang, karena
sering buka di kantor, Alhamdulillah sholat maghribnya jadi lebih sering
berjamaah. Jadi, kalau kalian ngerasa hidup kalian berubah, dan ngerasa
keadaannya lebih buruk dari sebelumnya, positive thinking. Allah kan maha
penyayang. Karena Allah sayang sama kita, jadi dikasih ujian biar kita naik
tingkat, salah satunya dengan cara hidup kita berubah gak seperti yang kita
inginkan.
Dan yang special dari tulisan ini adalah, Sholat tarawih. Tahun
ini aku tinggal di Jakarta karena kerja disini. Kosanku deket banget sama Panti
Sosial/ Panti Jompo. Selama bulan Ramadhan, setiap menjelang Isa, pintu samping
panti jompo dibuka, dan mempersilahkan warga sekitar untuk sholat tarawih di
masjid panti jompo. Awalnya aku diajak sholat disana oleh teman kosanku. Saat itu
aku terharu banget liat susana disana. Sebenernya aku pengen bikin tulisan ini sejak pertama
sholat tarawih disana. Aku pengen sharing ke temen-temen tentang betapa
berharganya waktu. Jadi gini, disana, hampir semua jamaah sholat adalah
kakek-kakek dan nenek-nenek. Hanya sebagian kecil warga sekitar. Hari pertama
aku sholat disana, aku agak kaget bercampur kagum. Banyak jamaah yang sholat
sambil duduk. Ada yang duduk di bawah, ada yang memakai kursi. Saat pertama
kali datang di masjid itu, ketika sedang menunggu adzan Isa, nenek disebelahku
mengajak aku bicara sampai akhirnya nenek tersebut bilang “nenek sudah tua,
buat jalan aja susah, kaki nenek sakit. Alhamdulillah nenek masih bisa ikut
sholat tarawih”. Jelas sekali nadanya bergetar tapi juga terpancar semangat
dari raut wajah nenek. ketika selesai solat, terlihat mereka berjalan sambil mengenakan tongkat, dituntun, kakinya ada yang bengkak sebelah, bahkan ada yang bengkok sehingga sangat sulit berjalan walupun mengenakan tongkat. Aku yang jauh lebih muda merasa malu dengan semangat kakek dan nenek tersebut. Setiap lihat ke kanan dan kiri, aku berfikir, mungkin kelak aku
akan memasuki umur seperti mereka (semoga Allah memberi umur panjang. Aaamiiin). Tapi, apakah
kelak aku akan se-semangat mereka? Harus! InsyaaAllah. Tapi yang harus
difokuskan adalah masa yang sekarang sedang aku jalani, karena bisa saja umurku
tidak sampai setua mereka. Ya, sekarang, di umur 22 tahun, aku harus jadi anak
muda yang semangat dalam beribadah. Masa muda tidak akan terulang. Aku gak mau
kalau sampai 10 atau 20 tahun kemudian, ketika aku mengingat-ingat masa muda,
aku menyesal. Jangan sampai. Allhumma Ba’idna yaa Allah.
Temen-temen yang baca
tulisan ini, pernah gak sih temen-temen ketemu nenek atau kakek yang ketika
kita sapa, dia tersenyum. Indah sekali kan? lalu ketika mereka hendak ke
masjid, mereka mengenakan tongkat, susah payah, tapi gak malas malasan. Nah kita,
yang masih muda, masih seger, masih sehat, tapi sering banget malas-malasan. Gak
dipungkiri, aku juga masih begitu. Makannya, yuk mulai sekarang kita lebih semangat
dalam menjalani hidup ini. Semangat beribadah pada Allah. Semangat dalam melakukan kebaikan-kebaikan, apapun
bentuknya, selagi itu baik, jalani dengan ikhlas dan niatkan ibadah. Bismillah,
semoga kita bisa jadi manusia yang kelak ketika kita sudah tua atau bahkan
telah tiada, kita tidak akan menyesali masa muda yang terbuang sia-sia. Bukan,
aku bukan ingin mengajak teman-temen untuk jadi orang yang banyak dikenal
karena sering melakukan kebaikan, bukan. Aku ingin mengajak teman-teman untuk menjadi
generasi muda yang baik, berilmu dan berakhlak, menggunakan waktu dengan
sebaik-baiknya, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena pada
dasarnya, yang penting itu bukan berapa banyak tepuk tangan yang kita dapatkan, melainkan berapa
banyak kebermanfaatan yang kita bagi pada orang lain, itulah tujuan kita. Mungkin
ini cara Allah menyadarkan aku untuk menjadi lebih baik, dengan cara
dipertemukan dengan kakek dan nenek di panti sosial ketika sholat Tarawih. Dan
mungkin ini cara Allah menyemangati teman-teman, dengan car abaca tulisan ini. Aaamiiin
..
Dan sampai malam ini, Alhamdulillah aku masih bertemu dengan
kakek-kakek dan nenek-nenek disana ketika sholat tarawih, dan mereka masih
bersemangat. Masyaa Allah, Alhamdulillah.
Nulis ini, bukan berarti aku udah baik ya, karena akupun
masih belajar. Belajar mengendalikan diri biar gak males-malesan, belajar jadi
pribadi yang lebih baik. Dan Insyaa Allah aku nulis ini bener-bener untuk
nyemangatin diri dan juga temen-temen
yang baca. Aku suka baca ulang tulisan-tulisan yang pernah aku posting sebagai
pengingat dan untuk me-refresh semangat. Kelalaian yang lalu biarlah berlalu dan jadikan evaluasi diri agar tidak terulang. Allah maha pengampun dan maha penyayang. Bismillah, yuk jadi lebih baik. Gogogo!
Cayooooo…. hehehe
Wassalamu’alikum :)
Jakarta, 11 Juni 2018
Salam, Nuri