BEFORE THE FLOOD
Assalamu’alaikum.. hai semua
Kali ini aku mau share tentang
film documenter yang dirilis oleh national
geographic tentang climate change
yang berjudul “before the flood”. Aku bukan mau nge riview filmnya, karena aku
cuma mau share aja tentang keadaan bumi saat ini dan apa yang seharusnya kita
lakukan sebagai makhluk buni yang baik dalam menghadapi dampak dari perubahan
iklim, sesuai yang digambarkan dalam film befofe the flood ini.
Aku nonton film ini di @america di
The Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta pada tanggal 26 November 2016. Hehe
udah lama banget ya.. maaf baru sempet nulis sekarang. InshaAllah masih inget
ko isi filmnya karena aku rekam juga beberapa scene yang menurut aku penting
dan bakal aku share disini. So, keep on reading yaaa
Before the flood merupakan film
dokumentasi yang menceritakan tentang dampak perubahan iklim dan pengaruhnya
bagi kehidupan, sampai fakta-fakta yang terjadi mengenai hal-hal yang terus
memperburuk dampak perubahan iklim. Film ini dibuat dengan dukungan langsung
dari PBB dan tokoh yang diamanahi menjelajah keberbagai belahan dunia selama
tiga tahun untuk mengamati dampak perubahan iklim dan mendokumentasikannya
adalah Leonardo DiCaprio dan tim director film ini. Di film ini, ada juga scene
yang memperlihatkan wawancara langsung dengan presiden Amerika, Barack Obama.
Pembuatan film ini dipimpin oleh Director Fisher Stevens dan penulis Mark
Monroe (udah sampe situ aja yang aku tau. aku juga gak kenal sama mereka hehe)
Leonardo DiCaprio dipilih oleh PBB
untuk menjadi Duta Perdamaian PBB tentang perubahan iklim. Diawal ketika
Leonardo dipilih oleh PBB, dia merasa sangat pesimis tentang masa depan
kehidupan bumi, bahkan dia merasa bahwa PBB telah memilih orang yang salah.
Leonardo sadar bahwa dunia disekitarnya beranggapan bahwa dia hanyalah seorang
actor Hollywood tanpa pengalaman ilmiah yang sedang dikelabuhi PBB menganai
perubahan iklim. Yup, scene itulah yang menjadi pembuka pada film dokumentasi Before the flood.
Untuk itulah, selama dua sampai
tiga tahun Leonardo menjelajah keberbagai tempat dimuka bumi untuk mengetahui
dampak perubahan iklim yang terjadi. Ia bahkan datang ke Indonesia dan melihat
keadaan satwa liar di Indonesia yang menjadi korban kebakaran hutan di
Indonesia yang memuncak pada tahun 2016 kemarin.
Menurutnya, kehidupan ini seperti
lukisan berjudul “The Garden of Earthly Delights”
karya Hieronymus Bosch yang dilukis sekitar tahun 1500. Lukisan itu
menggambarkan tentang keadaan bumi yang terbagi menjadi tiga panel. Pada panel
pertama, mulai ada kehidupan di bumi dan manusia menempatinya. Hewan-hewan
tumbuh dengan baik, bunga bermekaran, lingkungan nyaman dan sangat tentram
kehidupan saat itu. Dipanel kedua, lukisan mulai menjadi menarik. Dosa-dosa
besar mulai digambarkan pada lukisan itu. Kejahatan-kejahatan manusia
bertebaran mulai dari kejahatan kemanusiaan, overpopulasi, dan pesta pora.
Dipanel terakhir, panel paling mengerikan. Terdapat pemandangan yang kacau,
rusak, dan hangus. Leonardo mengibaratkannya dengan “surga yang telah dihinakan
dan dihancurkan”. Manusia mungkin tanpa sadar menghancurkan kehidupan di dunia
melalui limbah kehidupannya. Pembakaran batu bara, minyak, dan kayu melepas
karbondioksida ke atmosfer. Efek rumah kaca telah terdeteksi dan kini efek itu
mengubah iklim kita. Tebak kearah mana suhunya? Ke atas. Banyak media
memberitahan bahwa tahun 2012, 2013, 2014, 2015 adalah tahun terpanas di muka
bumi.
Banyak sekali berita yang telah
ditayangkan. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya membuat manusia sadar akan
dampak yang telah mereka timbulkan. Banyak yang berpendapat bahwa kehidupan
memang seperti ini polanya, tidak dapat diubah. Apakah mungkin setiap hendak
menyalakan kendaraan kita berpikir mengenai dampak gas yang ditimbulkan oleh
kendaraan kita? Itulah yang menjadi pertanyaan salah satu tokoh yang
diwawancarai oleh Leonardo di salah satu scene film (aku lupa nama tokohnya).
Ketika mengunjungi daerah kutub,
terdapat selang panjang yang terdampar disana. Selang itu merupakan salah satu
properti dalam penelitian tim Amerika Serikat dalam mengamati keadaan di kutub.
Dulunya selang panjang tersebut terkubur di dalam bongkahan es di kutub, namun
semakin tahun es di kutub semakin mencair sampai-sampai selang tersebut
terlihat sangat panjang terhuntai begitu saja. Hal tersebut menjadi salah satu
bukti bahwa dengan meningkatnya suhu di bumi, keadaan es di kutub semakin
mencair dan wilayah perairan di bumi semakin meluas.
Hal lain yang bisa aku tangkap
dari film ini yaitu mengenai diet daging sapi yang dapat kita lakukan sebagai
salah satu upaya untuk mengurangi
percepatan perubahan iklim. Begini penjelasannya. Sapi menghasilkan gas metana,
dimana metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat. cara sapi memproduksi
metana yaitu ketika mereka makan, saat mereka mengunyah makanan, sejumlah besar
gas metana dikeluarkan melalui mulut sapi menuju atmosfer. Atmosfer mengandung
jauh lebih banyak gas CO2, tapi gas metana jauh lebih berdampak. Setiap molekul
gas metana setara dengan 23 molekul CO2. Dan sebagian besar gas metana di atmosfer,
hampir semuanya berasal dari hewan teknak. Dibanding emisi dari sumber lain,
emisi yang dihasilkan dari konsumsi daging sapi yaitu sekitar 10-12 % total
emisi AS. Sehingga jika ditarik perbandingannya, 200 gram burger setara dengan
200 jam pemakaian bola lampu 60 watt. Mengejutkan memang, tapi sangat mudah
untuk membayangkan perubahan pola makan. Walaupun hanya sekedar beralih dari
daging sapi ke alternative lain, misalnya ayam. Ayam membutuhkan 20 % daratan dan
10 % emisi gas rumah kaca. Jika dibandingkan dengan padi, kentang, dan gandum,
daging sapi membutuhkan lahan sebesar 50 kali lipatnya. Sehingga mengurangi
asupan daging sapi hingga setengah atau bahkan seperempatnya bisa membuat
perubahan berarti. Mungkin kita bisa menggantinya dengan daging ayam, atau
sumber protein yang lain.
Di film ini juga diperlihatkan
langsung pernyataan beberapa tokoh politisi dan pengusaha yang menolak adanya
perubahan iklim. Bagi mereka, perubahan iklim itu tidak ada. Dan mereka menolak
jika pemerintah pemfokuskan diri untuk memikirkan perubahan iklim.
Diperlihatkan pula scene saat Leonardo mewawancarai presiden Barack Obama dan
menanyakan apa langkah nyata yang diambil oleh pemerintah setelah
menandatangani Paris Agreement tentang
climate change dan bagaimana sikap pemerintah
kepada politisi dan pengusaha yang radikal. Mereka hanya mementingkan bisnisnya
berjalan lancar namun tidak peduli terhadap dampak yang mereka timbulkan.
Diperlihatkan juga secara terang-terangan nama-nama perusahaan yang berperan
besar dalam terjadinya dampak perubahan iklim (aku tau beberapa nama
perusahaannya, karena perusahaan itu ada juga di Indonesia. salah duanya merupakan
perusahaan minyak dan burger yang cukup terkenal di Indonesia).
Nah, segitu aja yang bisa aku share
disini. Semoga bisa bermanfaat. Intinya, Kita yang butuh alam. Tapi kita juga
yang ngerusak alam. Padahal kita hidup diamanahkan untuk menajadi Khalifah di
bumi. Jadi, rawatlah bumi kita. Jangan terlalu banyak diskusi tanpa aksi.
Minimal ubahlah pola hidup kita pribadi, karena aku tau mengubah dunia memang
sulit. Tapi jika ingin dunia berubah menjadi lebih baik, masih ada harapan!
Mulailah perubahan dari sekarang. Mulai dari diri sendiri, dari yang paling
kecil. Selamat berubah menjadi diri sendiri yang jauh lebih baik, tidak menambah
kerusakan di bumi, bisa memberi kebermanfaatan bagi sekitar :)
*oya, tambahan. aku kagum sama kak Leonardo! (apasih wkwk)
![]() |
| semoga semakin banyak pemuda pemudi yang menginspirasi seperti kak Leonardo ya |
-Dramaga, 11 Maret 2017-
salam, Nuri Rachmayani :)






