Sabtu, 11 Maret 2017

BEFORE THE FLOOD

Diposting oleh nuri rachmayani di 06.30

BEFORE THE FLOOD

Assalamu’alaikum.. hai semua

Kali ini aku mau share tentang film documenter yang dirilis oleh national geographic tentang climate change yang berjudul “before the flood”. Aku bukan mau nge riview filmnya, karena aku cuma mau share aja tentang keadaan bumi saat ini dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai makhluk buni yang baik dalam menghadapi dampak dari perubahan iklim, sesuai yang digambarkan dalam film befofe the flood ini.

Aku nonton film ini di @america di The Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta pada tanggal 26 November 2016. Hehe udah lama banget ya.. maaf baru sempet nulis sekarang. InshaAllah masih inget ko isi filmnya karena aku rekam juga beberapa scene yang menurut aku penting dan bakal aku share disini. So, keep on reading yaaa

Before the flood merupakan film dokumentasi yang menceritakan tentang dampak perubahan iklim dan pengaruhnya bagi kehidupan, sampai fakta-fakta yang terjadi mengenai hal-hal yang terus memperburuk dampak perubahan iklim. Film ini dibuat dengan dukungan langsung dari PBB dan tokoh yang diamanahi menjelajah keberbagai belahan dunia selama tiga tahun untuk mengamati dampak perubahan iklim dan mendokumentasikannya adalah Leonardo DiCaprio dan tim director film ini. Di film ini, ada juga scene yang memperlihatkan wawancara langsung dengan presiden Amerika, Barack Obama. Pembuatan film ini dipimpin oleh Director Fisher Stevens dan penulis Mark Monroe (udah sampe situ aja yang aku tau. aku juga gak kenal sama mereka hehe)

Leonardo DiCaprio dipilih oleh PBB untuk menjadi Duta Perdamaian PBB tentang perubahan iklim. Diawal ketika Leonardo dipilih oleh PBB, dia merasa sangat pesimis tentang masa depan kehidupan bumi, bahkan dia merasa bahwa PBB telah memilih orang yang salah. Leonardo sadar bahwa dunia disekitarnya beranggapan bahwa dia hanyalah seorang actor Hollywood tanpa pengalaman ilmiah yang sedang dikelabuhi PBB menganai perubahan iklim. Yup, scene itulah yang menjadi pembuka pada film dokumentasi Before the flood.

Untuk itulah, selama dua sampai tiga tahun Leonardo menjelajah keberbagai tempat dimuka bumi untuk mengetahui dampak perubahan iklim yang terjadi. Ia bahkan datang ke Indonesia dan melihat keadaan satwa liar di Indonesia yang menjadi korban kebakaran hutan di Indonesia yang memuncak pada tahun 2016 kemarin.

Menurutnya, kehidupan ini seperti lukisan berjudul “The Garden of Earthly Delights” karya Hieronymus Bosch yang dilukis sekitar tahun 1500. Lukisan itu menggambarkan tentang keadaan bumi yang terbagi menjadi tiga panel. Pada panel pertama, mulai ada kehidupan di bumi dan manusia menempatinya. Hewan-hewan tumbuh dengan baik, bunga bermekaran, lingkungan nyaman dan sangat tentram kehidupan saat itu. Dipanel kedua, lukisan mulai menjadi menarik. Dosa-dosa besar mulai digambarkan pada lukisan itu. Kejahatan-kejahatan manusia bertebaran mulai dari kejahatan kemanusiaan, overpopulasi, dan pesta pora. Dipanel terakhir, panel paling mengerikan. Terdapat pemandangan yang kacau, rusak, dan hangus. Leonardo mengibaratkannya dengan “surga yang telah dihinakan dan dihancurkan”. Manusia mungkin tanpa sadar menghancurkan kehidupan di dunia melalui limbah kehidupannya. Pembakaran batu bara, minyak, dan kayu melepas karbondioksida ke atmosfer. Efek rumah kaca telah terdeteksi dan kini efek itu mengubah iklim kita. Tebak kearah mana suhunya? Ke atas. Banyak media memberitahan bahwa tahun 2012, 2013, 2014, 2015 adalah tahun terpanas di muka bumi.

Banyak sekali berita yang telah ditayangkan. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya membuat manusia sadar akan dampak yang telah mereka timbulkan. Banyak yang berpendapat bahwa kehidupan memang seperti ini polanya, tidak dapat diubah. Apakah mungkin setiap hendak menyalakan kendaraan kita berpikir mengenai dampak gas yang ditimbulkan oleh kendaraan kita? Itulah yang menjadi pertanyaan salah satu tokoh yang diwawancarai oleh Leonardo di salah satu scene film (aku lupa nama tokohnya).

Ketika mengunjungi daerah kutub, terdapat selang panjang yang terdampar disana. Selang itu merupakan salah satu properti dalam penelitian tim Amerika Serikat dalam mengamati keadaan di kutub. Dulunya selang panjang tersebut terkubur di dalam bongkahan es di kutub, namun semakin tahun es di kutub semakin mencair sampai-sampai selang tersebut terlihat sangat panjang terhuntai begitu saja. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa dengan meningkatnya suhu di bumi, keadaan es di kutub semakin mencair dan wilayah perairan di bumi semakin meluas.

Hal lain yang bisa aku tangkap dari film ini yaitu mengenai diet daging sapi yang dapat kita lakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi percepatan perubahan iklim. Begini penjelasannya. Sapi menghasilkan gas metana, dimana metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat. cara sapi memproduksi metana yaitu ketika mereka makan, saat mereka mengunyah makanan, sejumlah besar gas metana dikeluarkan melalui mulut sapi menuju atmosfer. Atmosfer mengandung jauh lebih banyak gas CO2, tapi gas metana jauh lebih berdampak. Setiap molekul gas metana setara dengan 23 molekul CO2. Dan sebagian besar gas metana di atmosfer, hampir semuanya berasal dari hewan teknak. Dibanding emisi dari sumber lain, emisi yang dihasilkan dari konsumsi daging sapi yaitu sekitar 10-12 % total emisi AS. Sehingga jika ditarik perbandingannya, 200 gram burger setara dengan 200 jam pemakaian bola lampu 60 watt. Mengejutkan memang, tapi sangat mudah untuk membayangkan perubahan pola makan. Walaupun hanya sekedar beralih dari daging sapi ke alternative lain, misalnya ayam. Ayam membutuhkan 20 % daratan dan 10 % emisi gas rumah kaca. Jika dibandingkan dengan padi, kentang, dan gandum, daging sapi membutuhkan lahan sebesar 50 kali lipatnya. Sehingga mengurangi asupan daging sapi hingga setengah atau bahkan seperempatnya bisa membuat perubahan berarti. Mungkin kita bisa menggantinya dengan daging ayam, atau sumber protein yang lain.

Di film ini juga diperlihatkan langsung pernyataan beberapa tokoh politisi dan pengusaha yang menolak adanya perubahan iklim. Bagi mereka, perubahan iklim itu tidak ada. Dan mereka menolak jika pemerintah pemfokuskan diri untuk memikirkan perubahan iklim. Diperlihatkan pula scene saat Leonardo mewawancarai presiden Barack Obama dan menanyakan apa langkah nyata yang diambil oleh pemerintah setelah menandatangani Paris Agreement tentang climate change dan bagaimana sikap pemerintah kepada politisi dan pengusaha yang radikal. Mereka hanya mementingkan bisnisnya berjalan lancar namun tidak peduli terhadap dampak yang mereka timbulkan. Diperlihatkan juga secara terang-terangan nama-nama perusahaan yang berperan besar dalam terjadinya dampak perubahan iklim (aku tau beberapa nama perusahaannya, karena perusahaan itu ada juga di Indonesia. salah duanya merupakan perusahaan minyak dan burger yang cukup terkenal di Indonesia).

Nah, segitu aja yang bisa aku share disini. Semoga bisa bermanfaat. Intinya, Kita yang butuh alam. Tapi kita juga yang ngerusak alam. Padahal kita hidup diamanahkan untuk menajadi Khalifah di bumi. Jadi, rawatlah bumi kita. Jangan terlalu banyak diskusi tanpa aksi. Minimal ubahlah pola hidup kita pribadi, karena aku tau mengubah dunia memang sulit. Tapi jika ingin dunia berubah menjadi lebih baik, masih ada harapan! Mulailah perubahan dari sekarang. Mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil. Selamat berubah menjadi diri sendiri yang jauh lebih baik, tidak menambah kerusakan di bumi, bisa memberi kebermanfaatan bagi sekitar :)
*oya, tambahan. aku kagum sama kak Leonardo! (apasih wkwk)


semoga semakin banyak pemuda pemudi yang menginspirasi seperti kak Leonardo ya

-Dramaga, 11 Maret 2017-
salam, Nuri Rachmayani :)


0 komentar:

Posting Komentar

 

NURI RACHMAYANI Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea