Kamis, 01 Februari 2018

ke Jepang sama Riza, Della, Itse, dan Galuh

Diposting oleh nuri rachmayani di 23.46 0 komentar
Asslamu’alaikum
Haaaai semuanya, Alhamdulillah di malam jum’at ini masih bisa nulis blog. Hehe semoga apa yang aku tulis disini ada manfaatnya ya untuk teman-teman yang baca, sekecil apapun itu :)

Oiya jangan lupa baca Al-kahfi ya, karena “barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at atau hari Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya diantara dua Jum’at. Masyaa Allah ya….

Nah, ditulisan kali ini, aku mau sharing pengalaman pergi ke negeri sakura, Jepang. Awal mulanya, pada tahun 2016 aku menuliskan impian “ingin merasakan musim salju” di list impianku yang aku tempel di pembatas Al-Quran. Jadi, aku menuliskan impian-impianku di sticky note dan aku temepl di pembatas Al-Quran. Harapannya, aku bisa dengan mudah membaca dan mendoakannya sebelum dan sesudah tadarus. Yap, aku pengeeeen banget ngerasain yang namanya musim salju. Hehehe. Juga pengeeeen banget pergi ke negeri sakura. Setiap liat gambar jepang/ bunga sakura/ salju, langsung aku sholawatin sambil berdoa agar suatu saat Allah mengizinkan aku pergi kesana. Aku ingat, suatu hari, ada seorang kaka kelas yang share foto di grup, foto pemandangan gunung fuji Jepang. Aku terus menerus melihat foto tersebut sambil sholawat dalam hati, dan berdoa agar suatu saat aku bisa melihatnya secara langsung. Tahun 2016 terlewati dan impian tersebut belum tercapai. Aku lupa menuliskannya lagi di list impian tahun 2017. Tahun 2017, aku tulis impian “pergi ke suatu tempat bersama Galuh, Riza, Dela, dan Itse”. Mereka adalah sahabat baikku. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang indah bersama mereka, sebelum kami berpisah, karena aku sadar, setelah lulus kuliah mungkin kami akan berada di tempat yang berbeda-beda. Kamipun berusaha menabung bersama untuk mewujudkan impian tersebut. Destinasi yang ingin kami tuju yaitu Belitung. Tiap hari kami menargetkan untuk menabung 5000 rupiah agar mencapai target biaya yang diperlukan.

Singkat cerita, pada awal tahun 2018, Alhamdulillah kami berlima berkesempatan untuk pergi ke Negeri Sakura, Gratis!. Alhamdulillah, dua impianku terwujud bersamaan dengan cara yang tak terduga. Lagi lagi aku sadar, rencana Allah memang jauuuuuuh lebih indah dari rencanaku.
sebelum check in, kita foto dulu hehehe

Tanggal 18 Januari 2018 aku, Riza, Dela, galuh, dan Itse pergi ke Jepang. Saat itulah pengalaman baru kami dimulai! Kami berangkat menggunakan Garuda Airlines dan berangkat pukul 23.55 dari bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Haneda (Tokyo International Airport). Kami sampai di Tokyo pukul 08.50 waktu Tokyo (lebih cepat 2 jam dari Indonesia). Perjalanan kami sangat amat berkesan karena ketika itu malam Jum’at, dan kami berkesempatan membaca Al Kahfi di atas awan :’) Alhamdulillah... kami juga saling membangunkan untuk sholat subuh dan melihat sunrise di atas awan yang Masyaa Allah indah banget. Semoga temen-temen yang baca juga kelak bisa menikmati hal yang baru saja aku alami itu. Aaamiiin. :)

Ketika sampai disana, suhunya yaitu 8 derajat, suhu yang bagi kami sangat dingin sehingga kami langsung menganakan jaket tebal ketika tiba di Bandara Haneda. Selanjutnya kami langsung menuju ke bus untuk memulai perjalanan di Tokyo. Bus tersebut adalah bus pariwisata yang akan kami pakai selama kami berwisata di Jepang. Kami di pandu oleh Tour Guide bernama Eli, tour guide asal Malaysia namun sudah tinggal di Jepang hampir 20 tahun. Dia sangat baik, ramah, dan penjelasannya mudah dipahami. Aku dan teman teman tidak sempat mandi, kami hanya cuci muka dan gosok gigi di pesawat sebelum sholat subuh. Hehehe. :D

Destinasi pertama, kami mengunjungi SHITAMACHI MUSEUM. Museum ini berbentuk rumah, dan berisikan perlengkapan rumah tangga tradisional khas jepang. Terdiri dari dua lantai, dimana pada lantai pertama terdapat replika lanskap kota pada masa Taisho dan di lantai dua terdapat kumpulan permainan tradisional pada zaman dulu. Di lantai satu dan dua kita juga dapat melihat perlengkapan rumah tangga tradisional khas jepang. Yang aku suka dari museum ini bukan hanya isinya yang simpel dan menarik, namun juga di bagian luar museum terdapat pemandangan yang sangat indah dimana banyak burung berterbangan. Letaknya sangat strategis dan bagus buat foto-foto hehehe.
di depan SHITAMACHI MUSEUM

Selanjutnya kami makan di restaurant tradisional yang tidak jauh dari museum tersebut sehingga kami cukup berjalan kaki. Karena sangat sulit menemukan masjid dan jadwal kunjungan ke tempat wisata padat (baru kembali ke hotel saat malam hari), jadi kami selalu memanfaatkan restaurant untuk tempat berwudhu. Jadi setelah makan, kami berwudhu di restaurant tempat kami makan, lalu melakukan sholat dzuhur dan ashar di bus (sholat jama’ taqdim). Sebenarnya kami ingin sekali sholat di restaurant, tapi tempat yang tersedia selalu tidak memadai, sehingga walaupun ingin sholat di restaurant, kami hanya bisa sholat dengan posisi duduk. Inilah pelajaran terpenting yang aku dapat disini. Dimanapun kita berada, harus bisa menjaga iman masing-masing. Harus tau waktu, karena tidak ada suara Adzan yang mengingatkan waktu sholat telah tiba. Alhamdulillah selama di Jepang, Allah sangat memudahkan urusan kami dalam hal beribadah. Alhamdulillah. :)
di SAGAMIKO ILLUMILLION

Pukul 15.30, kami menuju SAGAMIKO ILLUMILLION, yang merupakan LED Festival di daerah Sagamihara. Kita bisa melihat keindahan lampu-lampu yang disusun dalam banyak bentuk seperti hewan, bunga, istana, pohon-pohon, hingga snow man. Kalau kalian ingin pergi kesana, pergilah pada jam 16.00-21.00, saat dimana lampu-lampu dinyalakan. Letaknya dikelilingi pegunungan sehingga kita bisa menikmati pemandangan sekitar, namun tentu saja suhunya sangat dingin. Selanjutnya, kami pergi ke daerah KAWAGUCHI tempat kami menginap. Kami menginap di hotel Jiragonno Fuji No Yakata, sebuah hotel bintang 3 di pedesaan. Walaupun letaknya di desa, namun fasilitasnya sangat memadai. Disana sangat terkenal dengan pemandian air panasnya, tapi sayangnya aku dan teman-teman tidak mencobanya hehe. Sesampainya di hotel, kami langsung mengganti pakaian dengan menggunakan pakaian adat YUKATA untuk melakukan makan malam. Disana tersedia banyak sekali menu makanan, tapi harus berhati-hati karena beberapa menu menggunakan campuran daging babi. Aku suka sekali dengan kamar hotelnya, karena bagian toilet, shower, dan wastafel terpisah, dan di tempat tidurnya ada dua lapis selimut dimana salah satu lapisannya merupakan penghangat. Walaupun kamar tersebut sudah dilengkapi dengan penghangat, namun masih terasa dingin, terlebih suhu disana -3 °C. Udaranya pun sangat kering, sehingga kami disarankan untuk menyiapkan air dalam gelas dan ditaruh di meja sebelah tempat tidur untuk mengimbangi udara yang sangat kering. Semua air keran atau wastafel bisa diminum, dan semua tisu yang tersedia bisa langsung dibuang di kloset setelah digunakan karena dapat terurai. Yup, itulah dua hal yang aku suka dari hotel-hotel yang ada di jepang. Di Hotel ini juga tersedia tempat perbelanjaan oleh-oleh khas gunung fuji (oiya hotel ini letaknya di pedesaan kaki gunung fuji). Kalau kita mau beli oleh-oleh disitu dan lupa membawa uang, kita bisa langsung mengambilnya dan menyebutkan nomor kamar kita, jadi bayarnya bisa dilakukan ketika kita check out. Pagi harinya, kami check out karena malam selanjutnya kami akan menginap di daerah yang berbeda, yaitu di Tokyo. Ketika kami menginggalkan hotel, beberapa pelayan hotel mengiringi kepergian kami dan memberikan salam penghormatan serta lambaian tangan sebagai salam perpisahan. Aku terharu dengan cara mereka memperlakukan tamunya sehingga merasa sangat istimewa. Setiap aku berjalan di lorong hotel, mereka juga selalu menyapa dengan ramah.
pakai baju Yukata

Selanjutnya kami pergi ke Fujiten Snowpark. Nah, ini nih tempat yang paling berkesan buat aku. Aku dan teman-teman menikmati bermain salju disana, dan mencoba permainan ice scooter. Disana terdapat beberapa wahana permainan, namun kami hanya mencoba ice scooter karena hanya itu yang paling aman untuk pemula hehehe. Dari sana, kami juga bisa melihat langsung indahnya gunung fuji. Alhamdulillah, kali ini bukan foto lagi yang aku lihat. Karena cuaca tidak memungkinkan, jadi jalan menuju gunung fuji ditutup. Kalau cuacanya baik, pengunjung diperbolehkan untuk neik ke gunung fuji sampai maksimum tingkat kelima. Hal lain yang juga sangat aku suka, disana banyak sekali anak kecil hehehe lucu-lucu banget!. Mungkin karena weekend jadi tempat itu sangat ramai. Pengunjung yang datang bukan hanya orang Jepang, melainkan juga banyak turis dari berbagai negara karena dari bahasa yang aku dengar sangatlah beragam.

Perjalanan selanjutnya, kami menuju Tokyo dan berhenti di Tokyo Tower untuk mengambil foto. Selama perjalanan, kami menemukan banyak hal menarik dan baru. Contohnya, ketika berhenti di lampu merah, kami melihat sepasang kakek dan nenek yang sedang menyebrang. Mereka berjalan menggunakan “semacam trolly”, jadi bukan hanya untuk pegangan saat jalan, namun juga terdapat keranjang yang berfungsi untuk menaruh barang yang mereka bawa atau untuk barang belanjaan. Itulah yang menjadi adat disana, jadi walaupun sudah lansia, namun orang Jepang selalu terbiasa untuk berjalan kaki dan menjadi pribadi yang mandiri. Selanjutnya kami mengunjungi Odaiba City dan Rainbow Bridge. Sangat menyenangkan dan juga melelahkan. Maklum, dengan suhu udara yang jauh berbeda dengan Indonesia, dan dengan rangkaian kegiatan yang padat, kami harus bisa menjaga kesehatan. Hari itu, pukul 19.00 kami menuju ke Hotel di daerah Tokyo, namanya Sunshine City Prince Hotel. Sebuah hotel bintang 4 yang letaknya sangat strategis. Berbeda dengan hotel sebelumnya, hotel kedua ini jauh lebih modern dan lebih besar. Tapi entah kenapa aku lebih suka hotel yang pertama karena lingkungannya di desa dan orang-orangnya sangat bersahabat. Di Prince Hotel ini, fasilitasnya sangat memadai. Di kamar tersedia TV, kulkas, dan handphone lengkap yang telah terisi kuota internet dan boleh dibawa keluar hotel. Jadi kalau ada turis yang belum beli kartu internet bisa dengan mudah mengakses internet menggunakan HP tersebut. Aplikasi yang terpasang juga sangat membantu, seperti maps, tempat perbelanjaan di jepang, dan panduan bagi para turis. Letaknya sangat strategis karena dekat dengan pusat perbelanjaan. Hanya perlu berjalan kaki, kami bisa menemukan pusat perbelanjaan disana. Sesampainya di hotel, aku dan teman-teman segera bergegas untuk pergi ke tempat perbelanjaan, karena hampir semua toko disana jam 9 atau 10 sudah tutup.

Hari ketiga, kami pergi ke ASAKUSA KANNON TEMPLE dan NAKASIME STREET.  Di Asakusa Kannon Temple ini, kalau kita ingin masuk ke tempat peribadatan, kita harus cuci tangan dan membasuh wajah terlebih dulu di tempat yang disediakan. Aku dan temen temen tidak masuk, kita hanya berkeliling dan mengambil foto di depan kemudian langsung menuju nakasime street, karena disepanjang jalan itu terdapat banyak toko oleh-oleh khas Jepang. Saat itu hari minggu jadi sangat ramai pengunjung, dan sepanjang jalan yang kami temui kebanyakan adalah turis. Selanjutnya kami pergi ke tempat perbelanjaan di Tokyo, yaitu GINZA, lanjut ke SHIBUYA, dan terakhit ke SHINJUKU. Semua tempat itu benar-benar bikin aku lupa kalo kaki udah pegel banget. Suasananya, orang-orangnya, tempatnya, semuaaaaanya bikin aku benar-benar jatuh hati sama Jepang, khususnya Tokyo. Sepangjang jalan aku merekam video untuk bikin vlog, sambil baca sholawat dalam hati dan berdoa agar suatu saat aku bisa kesana lagi. Aku doain, semoga temen temen yang baca juga bisa tercapai ya untuk mengunjungi tempat impiannya. Aaamiiin.




Di Shibuya, kami menyempatkan untuk berfoto dengan patung Hachiko. Hachiko adalah anjing yang sangat terkenal, karena dia sangat setia kepada majikannya. Semasa hidupnya, dia terbiasa untuk mengantar dan menjemput majikannya di stasiun Shibuya. Hingga suatu hari ketika majikannya meninggal, Hachiko setia menunggu majikannya di Stasiun hingga berhari-hari sampai akhirnya Hachikopun meninggal. Patung hachiko sangat dikerumuni banyak turis yang ingin berfoto. Setelah Shibuya, kami pergi ke Sinjuku. Menurut cerita orang-orang, Sinjuku ini merupakan tempat perbelanjaan yang lebih murah dibandingkan Ginza dan Shibuya. Ada cerita yang tak terlupakan di Shinjuku. Jadi ceritanya, ketika kami semua sudah kumpul, aku riza dan itse sibuk mengambil foto di lampu lalu lintas. Jadi ketika lampunya hijau dan orang-orang berbondong-bondong untuk menyebrang, kami memanfaatkan moment tersebut untuk mengambil foto. Ketika asik mengambil foto, salah satu dari kami berkata “kita gak bakal ditinggalin kan ini?”, dan pas kita melihat ke belakang, ternyata tour guide dan teman-teman lain sudah tidak ada. Kami spontan kaget dan tanpa berpikir panjang kami lari meunju arah tertentu untuk mengajar mereka. Kami berusaha untuk lari sekencang mungkin dengan kondisi udara yang sangat dingin, sambil bergandengan tangan agar tidak terpisah :’). Orang-orang yang melihat kami seakan bingung karena disana tidak ada orang berlarian kecuali kami wkwkwkwk. Setelah lumayan jauh larinya, kami sadar bahwa tidak terliat bendera yang dibawa tour guide kami, itu tandanya kami lari ke arah yang salah hahahah sedih banget. Akhirnya kami lari ke tempat semula, berharap tour guide sadar kalau kami ketinggalan. Kami tidak punya paket internet karena selama di jepang aku dan teman-teman hanya mengandalkan wifi hotel dan restaurant. Kami juga tidak membawa HP yang disediakan hotel. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Sevel dan memakai wifinya untuk menghubungi tour guide kami. Pikiranku udah gak karuan. Nafas sesek karena lari dimalam hari dengan suhu yang sangat dingin, di tambah rasa takut yang kelewat batas. Takut gak bisa pulang karena gak tau arah, gak ada internet, dan bingung mau nanya siapa (orang jepang sangat amat jarang yang bisa bahasa Inggris). Alhamdulillah beberapa menit kemudian kakak tour guidenya balik ke tempet kami berada (kakak ini berasal dari tour travel yang mengiringi perjalanan kami, bukan tour guide yang aku ceritain sebelumnya). Yang aku salut, kakaknya gak marah sama sekali, padahal udah jelas jelas kita yang salah. Jarak tempat kami ke restaurant pun lumayan, dan ditempuh dengan jalan kaki. Kakaknya hebat! Selama perjalananpun kami sangat nyaman karena kakaknya baik banget. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dan mengemasi barang-barang kami karena besoknya sudah harus pulang :’(

Banyak sekali pelajaran dan hal menarik yang aku dapat di Jepang…. Beberapa aku catat di buku kecilku ketika tour guide menjelaskan tentang Jepang. 
  • Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, tisu toilet boleh dibuang di kloset karena dia dapat terurai. Toiletpun sangat bersih, walaupun toilet umum. Di Indonesia, aku biasa melihat orang mengantri toilet tepat di depan pintu toilet. Namun di Jepang, mereka terbiasa mengantri bukan di depan pintu, jadi kesannya tidak berjubel yang orang yang keluar toilet akan merasa nyaman. Walaupun lama, tidak akan ada yang ngetok “yang di dalem siapa ya? Kok lama banget” wkwkwkwk. Mereka terbiasa sabar dalam mengantri.
  • Air kran atau wastafel dapat diminum.
  • Semua sampah harus dibawa sendiri. Jadi kita akan sangat jarang menemukan tempat sampah, namun kondisi lingkungannya sangat bersih. Itu karena masyarakatnya terbiasa membawa sampahnya sendiri dan dibuang di rumah masing-masing. Sangat jarang orang merokok di tempat umum, dan kalau ada, dia pasti membawa wadah untuk membuang abu rokoknya, jadi tidak dibiarkan abu nya jatuh di tempat umum. Jika menemukan tempat sampah, disana terdapat berbagai macam tempat sampah.
  • Kalau kalian ingin berbelanja, biasanya ada dua harga yang tertera, harga asli dan harga setelah kena pajak. Kalau yang tertera hanya satu harga, itu adalah harga asli, jadi ketika di kasir, harga yang muncul akan lebih mahal karena telah ditambah pajak. Beberapa toko ada yang memampang tulisan “Free Tax” itu artinya bebas pajak. Untuk turis, kalau kita belanja 5400 yen atau lebih, kita akan bebas pajak, namun kita wajib membawa passport kita untuk di cap. Uang Yen hanya beberapa yang kertas, 10.000, 5.000, dan 1.000 yen, selebihnya recehan. Kalau tidak terbiasa pasti bingung ketika ingin membayar dikasir karena terlalu banyak jenis recehnya. Nah, kalau bingung, kita hanya perlu mengambil segenggam uang receh, lalu di hadapkan ke kasir, nanti dia yang akan mengambilnya dari tangan kita, sejumlah yang harus dibayarkan. Mereka jujur kok, hal seperti itu sudah biasa disana. Atau, biasanya di kasir terdapat nampan kecil untuk menaruh uang, agar tangan kita tidak kotor karena terlalu lama memegang uang.
  • Hal lain yang juga sepele namun baik untuk ditiru, orang Jepang kalau melepas sandal atau sepatu, mereka langsung menatanya menghadap pintu. Jadi kalau mau pakai lagi sendalnya, bisa dengan mudah langsung pakai tanpa harus membalikkannya. Hehehe simpel tapi patut dicontoh. Oiya kebanyakan restaurant di Jepang menyediakan sistem “lesehan” hehe.. tapi kerennya, ada loker khusus sepatu lengkap dengan kuncinya. Padahal disana orangnya jujur-jujur jadi jarang ada barang hilang, namun tetap keteratutan dan kedisiplinan selalu diterapkan. Salut!
  • Bangunan di Jepang, khususnya di Tokyo selalu terlihat bersih, itu karena mereka menerapkan kebiasaan mengecat bangunan setiap lima tahun sekali.
  • Apartemen disana, kalau tidak memakai lift, maksimal hanya boleh sampai lantai 5, dan harga yang paling mahal adalah harga kamar di lantai 5. Itu karena di jepang sangat sering terjadi gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi ada dua macam, yang bergeser ke kanan dan kiri, dan keatas bawah. Nah, ketika yang terjadi adalah gempa atas bawah, maka bangunan yang pertama ambruk adalah lantai paling bawah. Disetiap lantai apartemen terdapat lubang kotak berukuran sekitar 1x1 meter, biasanya letaknya di balkon. Lubang tersebut dapat dibuka ketika ada gempa, dan secara otomatis dapat menjulurkan tangga untuk turun. Jadi semacam pintu darurat. Rumah atau apartemen disana juga selalu memberikan space anata bangunan, agar jika terjadi gempa kanan kiri, tidak terjadi retak karena benturan tembok bangunan satu dengan lainnya.
  • Sekolah disana semuanya bagus. Untuk SD, SMP, SMA, masyarakat yang tinggal disatu komplek yang sama wajib sekolah di sekolah terdekat di komplek itu. Jadi gak ada yang sekolahnya jauh karena ingin di sekolah yang bagus, apapun latar belakang keluarganya. Semua sama rata, sama bagus, dan kurikulumnya sama. Untuk keluarga kerajaan, ada sekolah khusus yang juga dekat dengan istana kerajaan.
  • Ketika di bandara Haneda, aku pergi ke toilet, dan menemukan HP seseorang yang tertinggal. Aku segera melapor kepada cleaning service yang kebetulan sedang bersih-bersih disitu. Lalu dia berkata “jangan dipegang! Cukup letakkn ditempat semula, nanti orangnya akan kembali ketika dia sadar HP nya tertinggal”. Yup, itulah salah satu budaya orang Jepang yang juga pernah diceritakan oleh tour guide kami. Mereka terbiasa menanamkan pada diri sendiri bahwa jika bukan barang milik kita, jangan ambil! Jadilah orang yang jujur.


Alhamdulillah, selesai . hehehe terimakasih banyak buat yang udah baca, terlebih kalau sampai akhir bacanya. Semoga ada manfaatnya, sekecil apapun itu. Semangat buat semuanya, semoga impian kita semua sejalan dengan scenario indah Allah. Aaaamiiin.

Oiya tambahan, kelebihan dan hal-hal menarik Jepang yang aku ceritain diatas gak bermaksud untuk membandingkan dengan Indonesia, dalam artian bilang Indonesia lebih buruk. Nggak sama sekali! Setiap Negara punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. I love Indonesia soooo much more than other country. Tapi, masing-masing Negara punya kelebihan yang bisa jadi contoh untuk Indonesia dan untuk kita masyarakat Indonesia, agar bangsa ini semakin baik dari waktu kewaktu.

Next aku pengen banget ke Baitullah, Makkah. Semoga disegerakan. Aaaamiiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Salam hangat, Nuri :)
 

NURI RACHMAYANI Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea