Sabtu, 16 Februari 2019

ketika dia mendekat

Diposting oleh nuri rachmayani di 06.37 2 komentar

Assalamu’alaikum
Hai semua.. apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia ya.. Aaamiiin
Udah lama aku gak nulis blog. Hehe aku lagi berjuang ngembangin channel YouTube aku dengan rutin upload 1 video perminggunya. Harusnya aku juga upload tulisan di blog 2 minggu sekali, tapi belum terlaksana. Mohon doanya ya biar konsitsen dan seimbang antara Youtube dan Blog. Kenapa aku ngeblog dan ngeYouTube? Simple. Karena aku suka. Menurutku, selagi itu positive, apalagi kalo menyenangkan dan aku suka, kenapa enggak? Hehe. Karena ketika tua nanti mungkin video dan tulisanku bisa jadi inspirasi untuk anak dan keluargaku kelak. Aamiiin.

cinta…
tak ada satupun insan, yang mampu menolaknya
cinta…
cukup dirasakan, tak perlu dimiliki
biarlah cinta datang diwaktu yang tepat, saat dua insan halal tuk bersama
biar Tuhan pilihkan yang terbaik untukmu
yang harus kau lakukan jadilah wanita hebat
wahai muslimah kau terlalu indah, kau terlalu berharga, untuk kekasih yang belum pastiii
jadilah seperti bintang bersinar dikegelapan
jadilah emas yang berharga

Yup… kurang lebih itulah lirik lagu Bella Almira yang sampe sekarang masih suka kunyanyiin hehehe. Selain lagunya enak, liriknya juga bagus.

Ngomongin cinta emang selalu jadi topik yang menarik dikalangan masyarakat, terlebih anak muda. Bukan, bukan cinta terhadap orang tua, tapi cinta terhadap seseorang yang belum jadi mahramnya.

Sebagai perempuan, secara manusiawi akupun pernah punya rasa itu, tapi lebih sering aku pendam karena takut kecewa. Dulu aku belum paham kenapa kita harus menahan diri. Yang aku tau, aku menahan diri agar disayang Allah. Ya, sebatas itu. Tapi ternyata, justru menahan diri itu sangat bermanfaat untuk diri kita sendiri. Menjaga kita, melindungi diri kita, dan mengajarkan kita tentang apa itu sabar.

“Menikah”. Selalu jadi bahan perbincangan seru dikalangan remaja. Terlebih jika sedang banyak tugas, banyak masalah, dengan mudahnya banyak orang mengatakan “adek lelah, nikah aja boleh gak?” seakan-akan menikah itu sebuah jalan untuk lari dari tanggung jawab yang harus diselesaikan. Hmmm itu nanti aja deh dibahasnya.
Sekarang aku mau fokus bahas tentang “Ketika dia mendekat”
*jadi udah sepanjang ini baru intro? Wkwkkwkwk tenang saudara-saudara

Q : Kalian yang perempuan, pernah gak ada laki-laki yang datang mendekati kalian?
*Ini bukan talkshow yang ketika aku tanya penonton bisa langsung jawab. Jadi ya kalo disini aku tanya dan aku sendiri juga yang jawab. Hehhe. Ok gapapa.
A : Pernah
Q : Dari tiap-tiap yang datang mendekat, caranya beda-beda gak?
A : Iya beda-beda. Ada yang modus, ada yang pelan-pelan, ada yang mulai dari titip salam ke orang-orang terdekat, ada juga yang caranya panjang  dan sabar banget udah dicuekin tapi tetep aja berjuang mendekat.
Q : Trus gimana?
A : Gimana apanya? Ya gak gimana-gimana. Seberjuang apapun dia, kalo caranya salah ya gak akan berkah. Dan kalo bukan jodoh ya cuma bakal jadi “bumbu” dalam kehidupan.

Nah! That’s the point!
Seberjuang apapun seseorang laki-laki mendekati perempuan, kalo caranya salah (dengan modus, ngajak pacaran, teman tapi bukan teman, dll), ya gimana Allah mau Ridho. Dan seberjuang apapun juga, kalo bukan jodoh, ya hanya akan menjadi “bumbu” dalam kehidupan.

Beberapa kali aku sharing dengan teman-teman perempuan, tentang “laki-laki”, ada hal penting yang aku tangkap yaitu “perempuan ingin dihargai”. Bukan dihargai dengan cara selalu disanjung, selalu dibenarkan walaupun salah, bukaaaan. Maksudnya dihargai tuh gini, ibaratnya, ketika kalian beli barang, si barang akan lebih bahagia kalau kalian memeriksa dan kepoin dengan cara yang baik, kalian bernegosiasi ke pemiliknya langsung, kalo cocok baru dibeli. Bukan dengan cara di otak atik dulu barangnya, dibawa-bawa dulu baru kalo cocok dibeli dan kalo gak cocok ya dibalikin lagi ke tokonya. Bukan kaya gitu. Naaah si barang itu ibarat perempuan dan di pemiliknya ibarat orang tua/wali perempuan. Jadi intinya perempuan akan lebih merasa dirinya dihargai ketika laki-laki datang dengan cara yang baik. Emang kalian (laki-laki) mau beli barang yang udah diotak-atik sama orang lain, yang kualitasnya kurang baik karena sudah berpindah tangan, dll. Nggak mau kan?
Itu yang aku tangkap setelah beberapa kali sharing dengan teman-teman.

Terkadang aku suka mikir, Allah kan maha adil. Jodoh kita merupakan cerminan diri kita. Kalau kita baik (atau mencoba untuk terus menuju baik), InsyaaAllah jodoh kita disana juga adalah orang yang baik (atau sedang mencoba untuk terus menjadi baik). Nah, kalo kita (perempuan) seneng digombalin laki-laki yang bukan mahram kita, emang kalian rela kalo nanti jodoh kalian adalah orang yang suka gombalin perempuan-perempuan diluar sana?. Yang kalo ada perempuan cantik dikit, follow…buka akunnya, scroll fotonya sampe habis. 
-_-

Trus ada yang bilang “gapapa aku kan pacaran dengan niat serius mau nikah sama dia”. Pertanyaannya, emang kamu yakin kalo kalian berjodoh? Jodoh itu sudah Allah tetapkan sejak kita 4 bulan dalam kandungan ibu kita, dan menjadi rahasia Ilahi. Dan kalaupun kalian memang berjodoh, tapi gini. menikah itu kan “untuk menyempurnakan agama”. Masa mau menyempurnakan agama dengan proses yang dilarang Allah? Yakin? Pernah denger gak kalo segala hasil itu bisa dilihat dari prosesnya. Kalo prosesnya baik, hasilnyapun baik dan berkah. Kalo prosesnya gak baik, ya mungkin aja sih hasilnya baik sesuai harapan, tapi apakah berkah? Hmmm coba pikir lagi.

Jadi gimana ketika dia mendekat? Kalian pasti tau jawabannya :)

Selamat malam minggu, semoga weekendmu tetap produktif


*Sssssttt tulisan ini juga untuk aku pribadi biar selalu ingat, terlebih kalo iman lagi turun. Dan akupun banyak salah, makannya aku nulis ini biar yang baca gak banyak salah kaya aku. Dan biar kalo nanti disurga kalian gak liat aku kalian bisa ingat dan cari aku biar aku juga ikut masuk surga :’)

Salam,
Nuri


Jumat, 04 Januari 2019

RESOLUSI TAHUN BARU? YAKIN TERCAPAI?

Diposting oleh nuri rachmayani di 23.02 0 komentar

Assalamu'alaikum... Haiiii semuaaaaaaa :)

Ini tulisan pertama aku di tahun 2019 dan yeaaay kusenang! hehehe. Akhirnya semangat untuk nulis kembali muncul. Sebenernya akhir bulan Desember 2018 aku sempet bikin sesi sharing di IG story buat cari inspirasi kira-kira menurut temen-temen next-nya apa yang harus aku tulis/sharing di blog, dan Alhamdulillah banyak banget request dari temen-temen semua. Makasih ya... semoga request-nya bisa aku realisasikan kedalam tulisan. Aaamiiin.            

Sebelum aku tulis request-an temen-temen, aku pengen sharing dulu nih tentang sesuatu yang lagi hits diawal tahun. Yes, RESOLUSI. Gimana? apakah di awal tahun ini kalian termasuk kelompok yang bikin resolusi 2019? Kalo iya,  tahun ini pertama kalinya atau memang setiap tahun bikin resolusi? Truuss coba inget-inget, dari sederet resolusi yang pernah kalian buat, apakah sudah tercapai? Seberapa konsisten kalian melakukan usaha untuk mewujudkan resolusi tersebut? dan seberapa sering kalian tengok ulang resolusi tahunan itu? apakah tiap bulan kalian mereview segala usaha yang dilakukan demi terwujudnya resolusi itu, atau malah bulan kedua aja kalian udah lupa sama apa yang pernah kalian tulis sebagai "Resolusi Tahun Baru" ????

Tulisan kali ini terinspirasi dari IG story kak Fellexandro Ruby (@fellexandro) yang membahas tentang "Resolusi Tahun Baru". Terimakasih banyak untuk kak Ruby yang udah sharing tentang hal yang sangat bermanfaat dan juga udah izinin aku untuk repost dalam bentuk tulisan yang sekarang lagi temen-temen baca. Aku coba share disini ya... sekalian kita belajar bareng :)

Kak Ruby memaparkan bahwa menurut Journal Of Clinical Psychology 58 (2002), 1 dari 3 resolusi tahun baru gugur saat memasuki bulan ke-2. Kok bisa? Bisa banget, tanpa kita sadari! Aku sendiri termasuk orang yang rajin bikin resolusi tahun baru (sebenernya gak harus tahun masehi, tapi untuk memudahkan aja). Gak semua resolusi tahunanku tercapai, tapi Alhamdulillah ada juga yang tercapai dan ketika aku ceklis resolusi yang telah tercapai, rasanya beuuuh MasyaaAllah seneng pisan. Rasanya pengen ngaca, trus bilang "good job ama! makasih ya :)" wkwkwk. Gak papa lah lebay dikit, apseriasi ke diri sendiri gak salah kan hehe. Tapi ya itu tadi.... masih banyak juga yang belum tercapai. Nah ini nih yang bakal kita bahas. Kenapa sih kok banyak yang gak tercapai? atau kenapa sih kok susah buat konsisten sampe bulan kedua aja udah lupa sama resolusi sendiri? 

Coba tengok, ketika kita bikin resolusi, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai kunci atau pondasi dalam membuat dan merealisasikan Resolusi tersebut.

1. FOKUS
Percayalah, setiap orang punya kapasitas yang berbeda-beda. Ada yang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu, ada yang tidak. Gak masalah, hargai potensi diri dan tetap fokus lakukan apa yang kita bisa. 1-2 asal fokus dan dilakukan semaksimal mungkin itu jauh lebih baik dari pada 10 tapi gak ada yang selesai dengan hasil yang signifikan. Atau bisa juga kita bikin 12 resolusi dalam 1 tahun, dimana tiap bulan kita fokus ke 1 resolusi. Boleh-boleh aja, asal fokus!

2. SPESIFIK
Yuk kita belajar menspesifikan resolusi kita. Aku pernah denger cerita ada seorang laki-laki yang selalu berdoa ingin memiliki istri solehah, dan kemudian dia menikah dengan seseorang yang bernama solehah. Ada juga seorang perempuan yang menginginkan pasangan yang bertato agar terlihat keren, dan ketika dia dipertemukan dengan pasangannya, ternyata memang bertato, tapi alisnya. Wkwkwkk. Oke back to the topic, buat se-spesifik mungkin!

Kenapa harus spesifik? Karena akan muncul banyak alasan untuk mentoleransi resolusi kita sebelum waktunya habis dan membuat kita malas mencapainya. Misal bikin resolusi tahun 2019 harus punya tabungan. trus ketika kalian gak bisa konsisten jaga cashflow keuangan dan terus-terusan boros, di bulan ke 11 kalian lihat ditabungan cuma ada Rp 10.000 misalnya, akhirnya kalian dengan mudahnya bilang "gakpapa deh resolusinya kan punya tabungan, walaupun hanya Rp 10.000". Hmmmmmm.....-_-
Kita harus bisa membedakan mana yang termasuk goal, makan yang bukan. Contohnya seperti dibawah ini :

NOT A GOAL
GOAL
Lebih dekat dengan Allah
Membaca Al Quran 1 hari 1 Juz, setiap hari, mendawamkan sholat sunnah Rawatib.
Mau punya kamera
Punya kamera Canon G7 x atau G7 x ii
Mau punya pekerjaan baru
Mau punya pekerjaan baru yang incomenya naik, punya kesempatan nambah ilmu managerial & food tech, lingkungannya baik dan bossnya asik
Jadi YouTube Content Creator
Rutin upload video YouTube 2 minggu sekali seputar vlog, beauty, food talk, tips&sharing
Jadi Blogger
Rutin upload tulisan di blog 2 minggu sekali seputar lifestyle

3. MAKE IT PUBLIC
Biasanya kalau resolusi itu hanya kita dan Tuhan yang tau, kita bakal ngerasa tenang-tenang aja, selow, santai, tanpa harus mikirin malu atau pertanggungjawaban kalau gak tercapai. Beda dengan kalau kita mengumumkan resolusi kita di sosial media, atau minimal ada orang lain yang tau akan resolusi kita dan bersedia bawelin kita kalau resolusinya belum tercapai. Bayangin kalian bikin status di media sosial tentang resolusi kalian, pasti akan ada rasa malu kalau gak tercapai. Ada rasa "duh, nanti dibilang om-do, dibilang pencitraan doang" atau lebih parahnya malah resolusi kita jadi direndahin sama orang lain yang baca, dan ketika kita bikin resolusi baru orang-orang akan bilang "gak mungkin..... nanti paling gak tercapai lagi" dan lain sebagainya. Nah sebelum itu semua terjadi, setelah make it public, pasti akan muncul semangat untuk melakukan usaha-usaha agar resolusi tidak lagi hanya hayalan semata.

4. MAKE IT CHALLENGE
Bikin challenge untuk diri sendiri! Kadang kita suka susah untuk melakukan sesuatu meskipun tujuannya untuk kebaikan kita, tapi ketika mendapatkan challenge atau ditantang orang, maka ego kita akan bangkit seakan-akan harus melakukan usaha untuk pembuktian diri. Nah rasa ingin membuktikan bahwa kita mampu membuat impian jadi nyata inilah yang harus kita tumbuhkan pada diri kita, salah satunya dengan cara make it challenge. Karena ketika kita merasa tertantang, optimisme akan tumbuh, mindset kita akan mengarahkan kita akan keyakinan "aku pasti bisa". 

5. KNOW YOUR WHY
Pahami kenapa kamu membuat resolusi itu? kenapa kamu melakukan hal itu? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa jadi semangat ketika datang rasa malas atau alasan-alasan yang menghambat tercapainya resolusi yang udah susah payah kalian buat. Contohnya, aku pengen tahun 2019 rutin upload tulisan blog 2 minggu sekali. why? karena aku pengen bisa lebih banyak sharing, lebih banyak menebar manfaat lewat tulisan yang aku buat, serta lebih banyak mengasah otak untuk bisa bikin konten yang menarik dan bermanfaat tentunya.

Jadi gimana? Apakah kalian yakin resolusi tahun 2019 yang udah dibuat akan tercapai? Harus yakin dong! Tapi coba tinjau dulu poin-poin diatas agar taraf keberhasilan resolusi kalian semakin meningkat dan meyakinkan. Yuk Semangat! Aku doakan semoga apapun resolusi yang kalian buat untuk tujuan kebaikan dapat tercapai, dan semakin hari bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. Terimakasih udah baca tulisan ini, dan terimakasih banyak untuk Kak Ruby.

Salam, Nuri :)


 

NURI RACHMAYANI Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea